Minggu, 08 Mei 2016

BELAJAR IKHLAS DALAM BERIBADAH


Ikhlas merupakan komitmen tertinggi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS. Al-An’am, 162).

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga.
  1. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.
  2. Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.
  3. Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.
Inti ikhlas adalah beramal hanya untuk Allah semata...100 % untuk Allah, LILLAAH, bukan 99,99%...murni untuk Allah...Tidak terkontaminasi oleh niat-niat lain walau hanya nol koma satu persen atau kurang dari itu...Kita tidak akan pernah tahu kadar keikhlasan diri kita sendiri, bagaimana pula kita bisa menilai kadar keikhlasan orang lain..? Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang keikhlasan orang lain karena tempatnya di dalam hati dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah..

Kita diperintah untuk memperbaiki diri dan niat kita dan bukan membahas niat dan hati orang lain.. Orang yang mengaku telah berbuat keikhlasan berarti dia belum ikhlas dan keikhlasannya perlu di ikhlaskan lagi.. Amal yang tidak didasarkan oleh keikhlasan atau yang ikhlas namun terkontaminasi oleh niat-niat lain adalah amal yang sia-sia di sisi Allah dan tidak berarti sedikitpun, bahkan pelakunya akan mendapatkan hukuman daripadanya. Orang yang telah mengeluarkan harta, tenaga, pikiran, waktu dan lainnya akan menjadi sia-sia kalau tidak murni keikhlasannya, bahkan ia akan mendapatkan hukuman dan penyesalan.

Diantara syarat diterimanya amal adalah ikhlas...Pelajaran tentang ikhlas dan niat adalah pelajaran yang wajib. Semoga kita semua mengetahuinya dan mampu merealisasikannya dengan sebenar-benarnya sehingga amal kita diterima Allah dan tidak sia-sia, Aaamiiin.

Orang yang paling rugi adalah orang yang menyangka telah berbuat kebaikan yang sangat banyak namun ternyata semuanya adalah sia-sia di hadapan Allah, tidak berarti dan bahkan ternyata ia mendapat hukuman. Allah Ta'ala berfirman: "Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23)

Buruknya Riya
Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?'” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Sumber:
1. http://www.dakwatuna.com/2008/05/03/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#axzz3hWZTNbkE
2. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/04/mbcw2i-belajar-ikhlas
3. https://www.facebook.com/groups/341025522675874/?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar