Rabu, 18 Mei 2016

Marilyn Mornington: Muallaf Menemukan Jalan Mengenal Islam

Foto: Marilyn Mornington (https://npartee.files.wordpress.com/2011/04/judge-marilyn.jpg)
Ia bernama Marilyn Mornington, pengacara yang menjadi hakim di sebuah pengadilan negeri di Inggris. Kini, ia juga dikenal sebagai seorang dosen internasional dan penulis tentang hukum keluarga, terutama tentang kekerasan domestik yang dialami perempuan dan anak-anak.

Wanita yang pernah menjadi penerima beasiswa di Biara Notre Dame ini memperoleh gelar hukumnya dari Sheffield University. Memulai kariernya di bidang hukum keluarga di Liverpool pada 1976, ia ditunjuk menjadi hakim di Distrik Birkenhead, Liverpool, pada 2004. Pada usianya yang ke-40, dia menjadi pengacara pertama yang ditunjuk menjadi hakim.

Perhatian dan pekerjaan utama Mornington adalah memberikan advokasi hukum bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban kekerasan. Dan di satu titik pada garis waktu kehidupannya, pekerjaan itulah yang menjadi pembuka jalan baginya pada Islam.

Islam mengadvokasi kebenaran ajarannya di mata Mornington dan menanamkan dalam-dalam kebenaran itu di hatinya. Semua bermula saat Mornington, dalam sejumlah kasus keluarga, harus berhubungan dengan Muslim yang membutuhkan bantuannya. Perlahan ia membangun kontak dengan mereka, mengenal satu, dua, dan banyak Muslim.

Melayani banyak Muslim, Mornington merasa perlu lebih banyak mengenal mereka, termasuk mengetahui latar belakang dan ideologi sang klien. “Maka, aku mulai membaca referensi tentang Islam,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Hamza Yusuf tahun lalu. Mornington tak berhenti pada buku-buku Islam. Ia mulai membaca Alquran di mana kemudian ia menemukan banyak panduan luar biasa tentang keluarga dan kisah-kisah mengagumkan tentang Rasulullah SAW dan istri-istri beliau.

Pengetahuan baru tentang Muslim itu tak saja membuatnya lebih memahami klien-klien Muslimnya, tetapi memahami Islam. Ia mengaku kagum pada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu. “Aku telah menggeluti profesiku lebih dari sepuluh tahun, dan aku menemukan ajaran yang indah tentang keluarga dalam Alquran,” ujarnya.

Semua itu, kata Mornington, berada di luar kehendaknya. “Bagaimana aku mengenal banyak Muslim, bagaimana aku mencoba mengenali Islam demi klienku, bagaimana aku tertarik untuk mengetahui lebih banyak hingga akhirnya aku kagum pada isi Alquran, itu semua bukan pilihanku,” ungkapnya.

“Allah telah mengawasiku sejak lama,” katanya. “Ia membimbingku ke jalan di mana tidak ada tempat bagiku untuk berputar arah. Itu karena semakin aku mengenal Islam dan Nabi Muhammad SAW, semakin jelas bagiku bahwa ia (Islam) adalah tempat di mana aku ingin berada. Islam adalah apa yang kuinginkan. ”Karenanya, Mornington tak pernah merasa dihadapkan pada pilihan. “Tak ada pilihan. Aku hanya merasa Tuhan menuntunku pada satu jalan. Dan itu adalah Islam.”

Selain membawanya pada keputusan untuk bersyahadat pada Ramadhan dua tahun lalu, menemukan hal-hal mengagumkan soal keluarga dalam Islam membuat Mornington sadar bahwa sesuatu yang lebih besar sedang membutuhkan advokasinya. “Bukan saja klien yang datang ke kantorku, melainkan Muslim Inggris seluruhnya,” katanya.

Setelah membaca Alquran dan banyak referensi Islam, Mornington tahu bahwa masyarakat banyak salah memahami tentang aturan dan ajaran Islam. Hal itulah yang dipandangnya menjadi penyebab maraknya kawin paksa di kalangan komunitas Islam, termasuk di negaranya, Inggris. “Itu sama sekali bukan ajaran Islam,” tegasnya.

Sumber:
1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf
2. http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar